Karya Literasi

Retakan Yang Menolak Tumbang

“Retakan Yang Menolak Tumbang” adalah sebuah persembahan kolektif yang jujur dari hati-hati yang telah ditempa oleh waktu. Antologi puisi ini mengajak pembaca untuk tidak sekadar melihat goresan luka, melainkan peta dari setiap retakan yang hadir di dalam jiwa para penulis, retakan yang dengan gigih menolak untuk hancur dan justru menegaskan ketangguhan.

Melalui bait-bait yang mendalam, buku ini membuka gerbang menuju ruang terdalam dan tergelap, tempat di mana pergulatan batin berlangsung. Setiap puisi lahir dari keberanian untuk mengakui kelemahan dan mengubahnya menjadi sumber kekuatan. Ini adalah kisah tentang jiwa-jiwa yang terluka, namun memilih untuk berdiri lebih tegak, mengingatkan kita bahwa di balik setiap senyum, ada luka yang menjadi bukti bahwa kita pernah dihantam, namun tak pernah menyerah pada keadaan.

Para penulis menemukan bahwa puisi adalah cara paling murni untuk mencari kunci menuju jati diri di tengah kekacauan hidup. Mereka memandang setiap pengalaman—baik kepedihan, kerinduan, maupun harapan—sebagai pelajaran yang menguatkan, serupa gunung dan debur ombak. Buku ini adalah hasil dari dorongan artistik untuk menemukan makna dari kekacauan, dan yang terpenting, untuk berbagi bisikan hati dengan harapan dapat menjadi pelukan hangat dan pengakuan bagi siapa pun yang merasa tidak sendiri dalam perjuangan mereka.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait